Lost In Papua : Wanita Suku Primitif Pemerkosa Laki-laki

Primitif masuk sebagai kosakata antropologi sejak abad XVIII. Istilah itu digunakan untuk menggambarkan suku-suku yang terisolasi. Pada 1933, Hollywood membuat film ‘Kingkong’ setelah pembuat filmnya bertualang ke Sumatera dan menemukan spesies orang utan. Sementara film tentang suku-suku primitif Amazon telah dibuat sejak 1980-an setelah eksplorasi oleh para antropolog sejak 1930-an.

Film-film tentang suku primitif itu biasanya menggambarkan suku-suku yang berada di hutan hujan tropis sebagai sekelompok manusia yang eksotik dan berada di luar peradaban modern. Selain tidak memakai pakaian (atau berpakaian secara ‘tidak layak’ secara pengertian modern), suku-suku itu digambarkan sebagai kanibal (gemar memakan daging manusia lain) dan kejam. Film-film itu ingin menyampaikan pesan bahwa suku-suku itu tidak memiliki kesadaran sosial sebagai manusia, dan lebih dekat dengan dunia binatang.

Film ‘Lost in Papua’ bisa jadi berangkat dari asumsi semacam itu juga. Yang justru menarik, film ini berusaha bergerak di antara pembongkaran dan peneguhan mitos suku primitif dan kanibal. Film ini diawali dengan gambar aerial hutan tropis Papua yang hijau, luas dan misterius. Tujuh orang laki-laki termasuk Rangga berkelana di rimba Papua untuk menemukan titik tambang, di lokasi yang dikenal sebagai RKT 2000. Mereka kemudian hilang tanpa meninggalkan pesan.

Cerita beralih ke Nadia, tunangan Rangga (diperankan Edo Borne) dari Jakarta yang ditugaskan bosnya untuk ke Merauke. Sendirian, tanpa deskripsi kerja yang jelas, Nadia (Fanny Fabriana) terpikat dengan keindahan alam dan keramahan teman-teman Papuanya. Alih-alih bekerja, Nadia malah pergi ke hutan bersama teman-temannya. Merry, gadis peranakan Tionghoa-Papua, ingin menemukan jejak pamannya yang hilang dalam ekspedisi ke RKT 2000 sementara Nadia ingin menyampaikan kalung dari kakeknya kepada kepala suku Korowai yang pernah menyelamatkannya.

Berempat mereka menempuh jalan dari wilayah Boven Digul yang merupakan tempat diasingkannya banyak pejuang nasional pada masa penjajahan Belanda (antara lain Bung Hatta, Sutan Syahrir). Setelah itu, mereka pun masuk ke hutan melalui jalan darat dan bertemu suku Korowai. Ternyata perjalanan mereka diikuti oleh David (Fauzi Baadilla) yang telah lama menyukai Nadia tetapi selalu ditolaknya. Karena sebuah insiden, David menembak salah satu anggota suku Korowai. Mereka pun mengamuk dan mengejar para tamu.

Dalam pelarian, tibalah mereka di perkampungan kaum kanibal yang semua anggotanya perempuan. Di sana, kaum lelaki akan diperkosa dan dibunuh. Mereka pun berusaha kabur namun malang tak dapat dihindarkan. Suku kanibal terus mengejar.

Film ini sebenarnya cukup menarik, terutama dalam pelibatan aktor-aktor Papua dan penggambaran masyarakat Papua yang cukup realistis. Namun skenario film ini tidak dibuat dengan alur cerita yang jelas sehingga sangat membosankan. Belum lagi karakterisasi dan akting dari kedua aktor dari Jakarta (Fauzi Baadilla dan Fanny Fabriana) yang sangat klise, kalau tidak bisa dikatakan mengganggu. Penggambaran alam Papua yang biasanya jadi ciri khas film-film yang berlokasi di tempat ini, macam ‘Denias, Senandung di atas Awan’ (2008), justru tidak terlalu menonjol.

Sebagai sebuah film yang bertujuan “untuk menunjukkan keunikan dan kekayaan wisata budaya di Papua Selatan serta segala misterinya yang belum pernah Anda lihat”, ‘Lost in Papua’ mencoba memasukkan unsur-unsur lokal seperti pertunjukan budaya khas masyarakat tradisional Papua. Namun, karena berbagai kelemahan teknis, terutama di wilayah editing dan sinematografi (tak menyebut tata suara dan musik yang sangat berlebihan) film ini kurang dapat mencapai tujuannya.

Di luar persoalan teknis dan terutama cerita yang jauh dari sempurna, film ini menyajikan sebuah wacana menarik tentang bagaimana suku yang dulu dianggap primitif, sekarang mampu menunjuk suku lain sebagai primitif. Penggambaran Papua dalam film selalu diidentikkan dengan primitif dan bahkan kanibalisme. Hal ini terutama terlihat dalam film-film dokumenter etnografis yang beredar di televisi.

Namun, dalam film yang disutradarai oleh “putera daerah” Papua, Irham Acho Bachtiar ini, masyarakat Papua di Merauke digambarkan sebagai masyarakat yang maju dan beradab, sama dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Primitif dan kanibalisme hanya tersisa di daerah pegunungan dan pedalaman di mana perempuan memiliki kendali.

Pengalihan stereotip dari orang Papua yang tinggal di Merauke (kota) dengan suku primitif beranggota perempuan yang terisolasi menunjukkan bahwa proses stigmatisasi telah menjalar dan direproduksi oleh korban. Maka, ada kelompok masyarakat yang terbebaskan dan muncullah korban baru, yakni kelompok perempuan kanibal. Sosok-sosok perempuan kanibal yang memperkosa laki-laki bisa jadi hanya merupakan fantasi (atau ketakutan) laki-laki atas kekuatan perempuan. Sebab menurut catatan antropologis, peradaban modern belum pernah ‘menemukan’ suku seperti itu di pedalaman Papua.

Pembuat film tentunya mendapatkan gagasan itu dari film-film Hollywood kelas dua tentang suku Amazon kanibal di Amerika Latin. Di luar semua itu, film ini akan jadi teks yang menarik bagi penonton film Indonesia, dan terutama penonton Papua sendiri dalam melihat Papua dengan ‘cara baru’.

About these ads
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: