Ranjang Kematian Kamar 215 GrandKemang

Pintu kamar nomer 215 di lantai dua Hotel Grandkemang, Jakarta itu terbuka lebar. Ruangan tampak gelap dan sepi. Secangkir teh celup di atas meja sudah tandas. Sepasang sendal tergeletak di lantai. Sofa di sudut kosong. Dan, ranjang telah berubah menjadi keranda!

Jangan takut. Itu hanya salah satu dari karya instalasi yang merupakan bagian dari pameran Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD). Pergelaran bertajuk ‘Escapology: Crowd Lite’ itu digelar di Hotel Grandkemang, Jalan Kemang Raya, Jakarta hingga 17 Juni 2011.

Kamar yang telah disulap menjadi “rumah duka” tadi adalah karya Awan Simatupang berjudul ‘The Other Life’. Suasana magis dan menyeramkan langsung menyerbu ketika orang memasuki kamar itu.

Instalasi tersebut sebenarnya bukanlah karya baru dari perupa kelahiran Jakarta, 1967 itu. Seniman lulusan Insitut Kesenian Jakarta (IKJ) itu pernah memamerkan ‘The Other Life’ dalam pameran tunggalnya di MD Art Space, City Plaza, Jakarta, akhir 2009.

Bedanya, kali ini, karya tersebut seolah lebih menemukan maknanya yang konkret karena “dibingkai” dalam sebuah kamar hotel. Lebih-lebih, tema yang memayungi pamerannya kali ini pun terasa begitu relevan dengan “pesan” yang ingin disampaikan Awan.

Menginap di hotel merupakan salah satu bentuk “escapology” orang kota yang jenuh dengan rutinitasnya. Namun, lewat ‘The Other Life’, Awan mencoba menawarkan perenungan lain, tentang di mana kita sebenarnya, ketika sedang mencoba melarikan diri dari keseharian itu?

‘The Other Life’ karya Awan barangkali tergolong cukup ekstrem dalam menafsirkan tema ‘escapology’. Tafsir yang lebih “ringan” bisa dilihat pada karya Hardiman Radjab yang memanfaatkan sepeda motor kuno untuk karya instalasinya.

Pada karya berjudul ‘Coffee Shop’ Hardiman menyulap motor antik menjadi warung kopi berjalan dengan latar belakang ‘Toko Alat Bantu Aliong’. Sedangkan pada ‘Red Light’, dengan objek yang sama, perupa berusia 49 tahun itu membuat miniatur panti pijit, lengkap dengan “musik” ritmis lenguhan erotis perempuan.

Karya-karya Awan dan Hardiman hadir bersama karya 15 seniman lainnya. Karya-karya itu tersebar dari pintu masuk, lobi, hingga ke lorong-lorong belakang dan sebagian lantai dua.

Menurut Direktur Marketing Hotel Grandkemang Sri Utami, pameran tersebut bisa memberi tawaran lain bagi dunia industri hotel, sekaligus alternatif bagi khasanah pameran senirupa kontemporer itu sendiri. “Dibanding galeri, pameran di hotel lebih hidup karena selama 24 jam orang datang, menginap, makan, tidur….,” ujarnya.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: